Published: September 4, 2009
Pasca penutupan rute Kota, saat truk-truk itu mau melalui jembatan darurat di Kembang Seri (Rute lama, red) para sopir distop oleh pengawas proyek. Alasannya jembatan darurat itu tak bisa dilalui truk batubara bermuatan di atas 16 ton. Di sisi lain jika ingin melalui jalan ringroad Nakau-Sebakul-Pulau Baai, para pengusaha angkutan juga mesti minta izin pihak BKSDA soalnya jalan itu masuk dalam kawasan cagar alam. Selain itu jalan di kawasan itu juga tak layak.
Tapi sayangnya, dalam aksi kemarin, para sopir truk batubara juga gagal mendapatkan kepastian. Sama halnya saat mendatangi Balai Kota, saat mendatangi Pemprov, mereka tak berhasil bertemu Gubernur Bengkulu. Selain itu tak ada satupun pejabat Pemprov yang mau menemui para sopir yang sudah menunggu sejak dinihari itu.
Kepala daerah harus ambil keputusan untuk mencari solusi. Jalan mana yang bisa kami lewati menuju Pelabuhan Pulau Baai. Jangan kami dipingpong seperti ini, tegas salah seorang sopir truk batubara, Jatmiko (46) dari CV Ferawati.
Menurut Jatmiko, aksi mereka bukan aksi demo. Mereka hanya ingin mencari solusi agar bisa lancar mengangkut batubara dan tak merusak jalan serta menggangu masyarakat. Semuanya itu adalah wewenang kepala daerah. Sebab dengan kondisi begini kami tak bisa berbuat apa-apa.
Tagged with: Sopir Truct